Thursday, February 24, 2011

WANITA BERHIJAB

Berjalan menunduk menyembunyikan busungan

Menyiratkan sejuta keanggunan yang sarat kesalihan

Dengan hijab suci membungkus auratnya

Ia teguh menatap masa depan dengan keikhlasan



Ia bersabar

Ketika kerikil kecil mengganggu perjalanannya

Ia memungutnya dengan senyum tersungging

Menatapnya penuh kasih

Dan berkata, “Terima kasih, Ya Allah!“



Melangkah ia ke sebuah gubuk kecil

Ia menyebut gubuk itu isatana termegah sejagat

Sesekali ia tampak menghela nafas lega

Dan bergeming, “Ya Allah, aku masih bisa datang!”



Ia bersimpuh menengadahkan kedua tangannya

Menghadap kiblat yang tentu

Entah sadar atau tidak

Air matanya menetes bagaikan butiran berlian

Ia menangis



Ia menatap langit-langit gubuk seraya terisak

Tapi tak sedikitpun kata tergeming dari bibirnya

Kali ini ia bersujud menenggelamkan hatinya

Ia berbisik, “Ini bukan doa! Aku memerintah-Mu ya Allah!“



Apa yang ia harapkan

Tak cukupkah senyum yang selama ini ia sunggingkan

Tak cukupkah keikhlasan yang ia miliki

Apa yang ia belum miliki



Di gubuk itu ia berteriak, “Jangan buat aku melupakan-Mu!”

Teriakan itu melengking dalam menusuk telinga

Ia lebih terisak dan merana

Kali ini ia berbisik, “Aku tidak boleh jatuh cinta.”

Wednesday, July 28, 2010

SENYUM HAMPA

Senyumku, senyumkau, semnyumkalian, senyumsemu
Hampaku, hampakau, hampakalian, hampapalsu

Rasa itu beraduk menjadi satu di semak belukar
Semak belukar yang baru saja kemarin singgah di hatiku
Mulut ini tersenyum dan memang benar-benar tersenyum
Namun belenggu kisah hampa dalam belukar tengah mengganggunya

Senyumkau
Kutemani dengan sebongkah hampaku yang memaksa
Memaksa dan menyiksa kau untuk tersenyum
Senyum yang kau buat sendiri bagai nistaan

Senyumkalian
Terkesan palsu di dalam gelanggang keceriaan
Yang kalian paksa-paksakan sedemikian rupa
Sepalsu-palsunya

Semua senyum adalah semu
Semu di antara kelihaian penghianatan mata dan pendengaran
Semua senyum adalah penghianatan
Penghianatan dari semua kepalsuan