Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Friday, January 13, 2012

FILOSOFI CINTA


Cinta bukanlah seberapa banyak kita mendapatkan pengakuan dan kebaikan. Melainkan cinta adalah seberapa besar kita mengakui cinta itu dengan memberikan yang terbaik bagi orang yang kita cintai. Meskipun berjuta sakit akan kita terima, meskipun beribu liku harus kita tempuh. Namun cinta bukan paksaan yang memaksa kita melakukan itu semua. Karena itu semua atas dasar kesadaran.

Hujan masih turun begitu derasnya tatkala terang memberikan isyarat bahwa pagi telah datang. Namun hujan menghalangi sang mentari untuk keluar dari peraduan malamnya. Sehingga hanya bias-bias cahayanya yang tampak sedikit redup dari ufuk timur.

Dan hal itu tampak jelas mewakili suasana hatiku saat ini. Ketika kerinduan datang menetap dan menghantui sukma dan tak kunjung mereda. Ketika desakan kalbu yang memintaku untuk segera meluapkan rasa rindu itu. Dan ketika keadaan memaksaku untuk menahan itu semua.

Hujan telah membasahi dan membanjiri hatiku. Dengan rasa rindu yang menggebu-gebu yang aku sendiri tak tahu dari mana ujung dan sudutnya. Mentari sedang enggan menyapa hatiku. Bermuram durja dengan segala luapan rasa rindu yang sungguh menggelikan. Bukan. Bukan menggelikan. Malah terasa begitu menyakitkan di setiap sudut dinding-dinding hatiku.

“Apa yang sedang kau fikirkan?” satu suara membuat mataku berkedip enggan.

Aku mengedikkan bahu enggan menjawab pertanyaan Herman, abang bungsuku. “Bukan apa-apa.”

Herman menghela nafas panjang di sela-sela kepulan asap rokok yang baru saja keluar dari mulut dan lubang hidungnya. “Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan laki-laki itu.”

Aku menatap abangku dengan enggan dan mendengus kesal. “Bukan urusanmu, Bang. Sudahlah. Baiknya kau jauh-jauh dari sini. Aku mual dengan asap rokokmu.”

“Dasar perempuan. Sensitif terus bawaannya,”

Sesungguhnya yang menjadi kerinduanku selama ini bukan berarti aku sudah bertemu dengannya lalu berpisah dan belum bertemu hingga sekarang. Malahan, pun aku belum pernah menjumpai seperti apa rupanya hingga sekarang.

Lalu kau pasti akan bertanya-tanya, dari mana kerinduanku berasal.

Ah. Aku juga masih mencari-cari jawaban itu.

“Tertawa saja kau sampai puas, Marni!” ledekku kepada teman kerjaku setelah mendengar curahan hatiku tentang kerinduanku yang-mungkin-menurutnya aneh.

“Wong ndak pernah ketemu kok bisa kangen-kangenan gitu?”

Aku mendengus kesal lantaran tertawanya yang terdengar mengejekku. “Aku sudah bersumpah, kalau suatu hari nanti aku pasti akan bertemu dengannya.”

“Tunggu, tunggu!” Sergah Marni dengan raut muka penuh tanda tanya. “Lalu bagaimana ceritanya kau bisa mengenalnya hingga sekarang?”

Aku menggeleng pelan. “Entahlah. Rumit kalau kuceritakan.”

Ya, hanya sampai di situlah pembicaraan kami.

Awal pertama kali aku mengenalnya adalah ketika ia mengirimiku pesan singkat yang isinya hanya tiga deretan huruf A, M, dan I. Yaitu namaku.

Dan didorong rasa penasaranku yang tak dapat kutunda pada saat itu, akupun membalasnya hingga pada akhirnya kita saling mengenal dan sampai sedekat sekarang.

Sore inipun ia meneleponku lagi.

“Ami,” suara lembutnya mendebarkan nadiku.

“Hm?” jawabku singkat.

“Kamu hebat banget bikin filosofi. Coba, kamu bisa nggak bikin filosofi tentang cinta?” ia menantangku.

Aku tertawa kecil menanggapinya. “Bisa.” Aku mulai menyusun beberapa rangkaian kata di dalam otak dan menyimpannya di dalam ingatanku. “Cinta itu bukan menghitung berapa banyak kita mendapat pengakuan dan kebaikan. Melainkan adalah seberapa banyak kita membuat pengakuan tentang cinta itu dengan memberikan yang terbaik bagi orang yang kita cintai.”

“Benar juga. Mungkin kamu mau berbagi denganku, tentang kedekatanmu dengan seseorang, sebelum aku datang.”

“Itu artinya kamu ingin aku menceritakan tentang masa laluku?” aku menghela nafas. “Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang padaku? Bahwa mengungkit-ungkit masa lalu di dalam sebuah hubungan, akan memicu keretakan di dalam hubungan itu.”

“Memangnya seberapa istimewanya aku buat Ami?”

“Entahlah. Tidakkah cukup kalau aku menekankan kata ‘aku sayang kamu’ dengan lantang? Karena perasaan itu timbul bukan karena sebuah atau sepuluh alasan.”

“Terkadang alasan juga dibutuhkan, Ami. Ketika kita merasa tidak ada kata-kata lain yang akan kita jadikan sebagai bualan dalam sebuah hubungan.”

Aku tersipu mendengar lontarannya. Ia begitu pintar merangkai kata-kata yang dapat meruntuhkan segala argumenku. Namun bukan maksud untuk menjatuhkan, melainkan memperkuat argumen itu sendiri.

“Kalau kamu diberi kesempatan untuk membuat satu permohonan, apa yang akan kamu minta?” tanyanya membuyarkan diamku.

“Aku?” tersenyum lagi. “Aku akan memohon yang sesungguh-sungguhnya. Aku ingin bertemu dengan pujaan hatiku, entah itu sekarang atau suatu saat nanti.”

“Semoga permohonanmu dikabulkan.”

“Amin.” “Permohonan yang akan dikabulkan oleh sang Agung adalah permohonan yang lahir dan hadir dari lubuk hati yang paling dalam. Itulah permohonan yang benar-benar tulus.”

“Ami,”

“Iya…”

“Kalau aku sayang kamu, apa kamu sayang aku juga?”

Aku tersipu. “Ya. Seperti yang tadi kukatakan.”

***

PERSEPSI CINTA


Dengarlah kasihku, hati ini bukan untuk dipermainkan. Dengarlah sayangku, cinta ini bukan untuk dikhianati. Namun apa yang telah kaulakukan padaku mengajarkanku akan satu hal. Hal yang membuatku mengerti tentang sisi cinta yang tak selamanya indah seperti yang dulu menggelayuti angan sepiku. Angan indah yang nyatanya membuat rasa sakit yang baru saja kaugores semakin berdenyut di tepi-tepi hatiku.

Namun cinta ini suci. Namun cinta ini tulus. Namun cinta ini lahir atas dasar kuatnya asa dalam menerima semua keagungan dan kelemahan yang kaumiliki. Tak perlu kau peduli, tak peduli kau perlu, cinta ini akan setia menetap dalam satu naungan yang takkan pernah tergantikan keindahannya. Meski indah itu hanya terlihat di mataku, bukan di mata mereka.

Aku memang merasakan sakit yang menggebu itu. Atas dasar ketidakpedulianmu tentang luapan rasa ini. Aku memang merasakan kecewa yang amat sangat itu. Atas dasar pengkhianatan yang kauhempaskan. Namun aku hanya akan terdiam dan selamanya ingin diam menerima semua perlakuanmu. Karena cinta ini, dan karena ketakutanku akan kehilanganmu.

Jika sepasang bibir berkata bahwa cintaku sempurna, maka bibir itu perlu menelan kembali ludah yang telah dikeluarkannya sia-sia. Karena pada kenyataannya cinta ini pun tak berbalas. Bahwa cintaku bahagia, maka bibir itu harus mengatupkan diri rapat-rapat. Karena faktanya cinta ini berawal sedih dan takkan berakhir bahagia, meski hati ini memaksa.

“Cukup, Nurmala!” Bentak Adam. Ia geram menahan amarah yang menggemuruh di dasar jantungnya. Ingin ditamparnya sang kekasih yang dicintainya itu, namun apalah daya, ia sangat mencintainya. Bahkan tidak akan ia mengatakan ‘sangat mencintainya’ jika ada kata yang lebih pantas untuk menggambarkan perasaannya.

Nurmala terisak dibalik kedua telapak tangannya. “Maafkan aku, Adam. Aku tidak bisa membohongi hatiku.” Katanya, berusaha menahan tubuhnya agar tidak bergetar terlalu hebat.

Adam telah berada di puncak kemurkaannya. Dikepalkannya kedua tangan yang telah melebam akibat perkelahian sengitnya dengan lelaki yang mengencani kekasihnya tadi. Ia tak menemukan benda apapun di dekatnya. Andaikan ada, berdarahlah sudah kedua tangannya itu.

“Apa maksudmu memperlakukanku seperti ini, Nur?” kali ini suara Adam melemah seperti menahan tangis yang hendak pecah.

Nurmala hanya kuasa menggeleng dan terus bersembunyi dan terisak di balik kedua telapak tangannya.

Adam menghela nafas berat. “Kurang pantaskah cinta yang kutitipkan di dalam hatimu dua tahun yang lalu? Kurang pantaskah jika aku yang menjadi satu-satunya di dalam hatimu? Atau, cinta saja kurang cukup bagimu?”

Nurmala mulai menampakkan mukanya yang berlumuran air mata dan memerah semu. Ia menggeleng berat menanggapi tuduhan Adam yang tidak ia setujui. “Aku mencintaimu, Adam. Sungguh rasa itu tidak pernah sedikitpun berkurang dari dulu hingga detik ini. Aku bersumpah, Adam.”

Adam tertawa hambar. Ia merasa dipermainkan dengan sumpah yang baru saja Nurmala ucapkan lantang-lantang dan jelas terdengar hingga ke dasar telinganya. “Apa tadi kau bilang? Tidak berkurang sedikitpun?” pecah sudah tawanya. Menggelegar dan membahana seisi ruangan tak berbilik tempat ia dan Nurmala berseteru. “Lalu apa yang kau berikan kepada lelaki jalang itu? Apa namanya bukan cinta? Atau mungkin ada istilah lain?”

Nurmala yang semula duduk berjongkok di tepian danau-tempat ia dan Adam memadukan rasa rindu yang bertalu-dengan sorot mata terluka, perlahan berdiri lalu mendekati Adam. Hingga sepertinya tak lagi ada jarak antara mereka berdua. “Tidak ada. Tidak ada istilah lain. Aku memang mencintainya. Tapi salah jika kau bilang aku membagi-bagi cintaku pada kalian berdua!” setetes air mata keluar lagi dari matanya.

Adam mencoba menghindari tatapan Nurmala. Ia tersenyum sinis mengingat rahasia besar yang disimpan kekasihnya. Dan ia menyesal mengapa baru ia ketahui sekarang. Ingin rasanya ia meninggalkan Nurmala cepat-cepat tanpa peduli Nurmala akan mengejarnya atau malah membiarkannya. Akan tetapi sekali lagi, apalah daya, ia sangat mencintai gadisnya itu.

“Nur, kau tahu, aku sangat mencintaimu.” Adam lelah.

“Aku tahu sekalipun tak seribu kali kau mengatakannya, Adam.”

“Dan bagiku, kehadiran lelaki itu di tengah-tengah kita merupakan pengkhianatan yang benar-benar tak bisa aku toleransi.”

Nurmala kembali menitikan air mata. “Sungguh, Adam. Bagaimana caranya agar kau percaya bahwa cintamu tidak pernah kubagi?”

“Lalu?” Adam menahan geram.

Nurmala meraih tangan kiri Adam. “Ada dua cinta di sini.” Didekatkannya tangan itu tepat di detakan jantungnya. “Dan, Sayang, cintamu tetap utuh dalam hati ini. Sedikitpun tak ingin ku membaginya dengan siapapun kecuali hanya denganmu.” Nurmala tersenyum di antara tetesan air matanya.

“Nur,” suara serak seorang lelaki membuyarkan pertengkaran Adam dan Nurmala.

“Bi?” Nurmala tersentak melihat kehadiran kekasih rahasianya itu di tengah-tengahnya dan juga Adam. Ia tak berusaha beranjak dari sisi Adam, namun di sisi lain ia juga ingin mendekati Habi dan memeluknya erat. Meluapkan semua rasa cinta yang bergemuruh hebat di dalam hatinya.

Akan tetapi sungguh, Adamlah yang paling ia rindukan ketika ia pergi jauh ke alam mimpi. Bahkan saat ini, saat yang sangat nyata dan benar-benar terjadi.

“Semua harus diakhiri.” Adam membuyarkan Habi dan Nurmala yang larut dalam pandangan masing-masing. Ia mundur lebih jauh dari Nurmala. “Nur, kau tidak lagi seutuhnya menjadi kekasihku. Dan maaf, aku tidak dapat menganggap pengakuanmu itu masuk akal. Aku benar-benar tidak bisa terima.” Adam menatap Nurmala lekat. “Jika dua cinta dapat tumbuh dalam satu hati, sudah dari dulu aku membawa sepuluh wanita ke hadapanmu, Nur.”

“Dan kau tak mengerti seberapa miris hatiku ketika kau bilang cintamu sama sekali tak terbagi.” Adam mendengus pasrah.

“Nur, aku yang akan merelakanmu.” Habi tetap pada tempatnya.

“Merelakan? Untuk siapa, hah?” suara Adam mengeras. “Cukup! Dan aku tak lagi memerlukan cintamu.”

Perlahan langkah kaki Adam dan Habi memudar dari hadapan Nurmala. Tak dapat lagi ia meneteskan air mata untuk menangisi kepergian dua laki-laki yang telah menjadi dua sayap di balik punggungnya. Ia hanya dapat menatap kepergian mereka samar dengan tatapan sayu. Entah itu sakit atau sedih.

Dengarlah kasihku, tidak pernah sekalipun kukhianati cintamu. Percayalah, cintaku tetap utuh untukmu. Maaf bila kehadirannya salah bagimu. Namun aku membutuhkan perisai yang tak dapat kauberikan padaku, kasih.

Cinta sucimu tetap terjaga di dalam lubuk hatiku. Cintamu utuh, Sayang. Utuh dan akan tetap bersemayam selamanya hanya di dalam hatiku.

Aku tahu engkau sakit, aku mengerti engkau terluka, karena kau mengira bahwa aku telah membagi cintamu dengannya. Tapi demi Tuhan, rasaku untukmu tak pernah sama dengan rasaku untuknya.

Aku mencintaimu, kasih. Selamanya akan tetap seperti itu.

SKS CERIA

Bojonegoro, 6 November 2010

Thursday, November 17, 2011

PUISI SENJA

Aku ingin berbicara tentang cinta. Cinta yang kini sedang ingin membuaiku di atas langit tertinggi. Aku ingin berbicara tentang cinta. Cinta yang saat ini sedang memaksaku untuk mendekatinya. Mendekatinya yang menciptakan cinta dalam hatiku.
Kemudian aku ingin berbicara tentang dirinya. Dirinya yang begitu kukagumi dengan segala kehebatan dan kelemahannya. Dan bagiku, semua yang ada di dalam dirinya pantas untuk kucintai sedemikian rupa, apa adanya, tanpa paksa, dengan sempurna.
Takkan habis fikiranku berkelana tentangmu, wahai cintaku. Karena begitu banyak kisah indah yang ingin kulukiskan di dalam cerita hidupku bersamamu. Takkan habis senyumku terukir, duhai kekasihku. Karena mengingatmu adalah hal yang terindah sepanjang sejarah hidupku.
Cintaku, kini aku sedang tersipu. Tersipu malu karena tengah terhipnotis kata-kata cinta yang sering kau perdengarkan kepadaku. Kini aku sedang berdebar. Berdebar merasakan cinta yang kau tanamkan dalam jiwaku.
Aku bahagia. Bahagia karenamu yang selalu mampu menumbuhkan bunga-bunga cinta dalam hatiku.
“Kamu mencintaiku?” pertanyaan klasik yang harusnya sudah kau tahu jawabannya.
“Apa menurutmu?” aku balik bertanya. Membuat raut mukamu berubah seperti sedang menahan tawa.
Akhirnya kau benar-benar tertawa. Dan anehnya, aku sangat menyukai bagaimana caramu tertawa. Dengan mata sedikit menyipit dan pipimu yang merona merah. Membuatku tak bisa menahan gemuruh kelu di dalam hatiku.
“Ya. Jawabannya iya. Kamu mencintaiku kan?”
Aku mengangguk. “Tepat sekali.” Aku menatapmu penuh cinta. Semoga senyumku mampu menghantarkan rasa cinta terdalamku padamu.
Langit mulai menguning. Menghapus birunya yang hangat dan sebentar lagi memudar menjadi senja yang dingin. Lalu menghantarnya kepada keheningan malam yang sepi. Namun aku belum ingin mengakhiri kebersamaanku denganmu, Sayang. Aku masih ingin mendengar suaramu. Aku masih ingin menatap kilau coklat bola matamu. Dan juga kata-kata cintamu.
“Ajarin aku bikin puisi ya, Sayang.” Kata-kata itu terdengar lembut dari bibirmu. Mengiang indah di dasar pendengaranku hingga sulit kulukiskan betapa hebatnya debaran jantungku saat ini.
“Buat apa?” maaf, aku tidak langsung mengiyakan permintaanmu, Sayang. Dan agaknya kau sedikit gemas dengan pertanyaanku yang terdengar konyol tadi. Pasti. Dan, aku sangat menyukai ekspresimu sekarang ini.
“Sayang, kamu kan hebat banget bikin puisinya…” kali ini kau mulai merajuk mesra dan manja di sampingku.
“Ih.” Aku sedikit malu. “Aku kan tanya, buat apa? Kok jawabnya gitu? Nggak nyambung ah!”
Kau memanyunkan bibirmu lucu. Sabarkan hatiku untuk tidak menciumnya, Ya Tuhan…
“Ayolah, Sayang…”
Aku tersenyum. Sejenak memandangmu. Lalu beralih menatap matahari yang perlahan mulai turun membawa cahayanya. Hijaunya rumput di sekitarkupun mulai samar. Hampir menghitam.
“Sisipkan rasa tersirat dalam lubuk hatiku.
Dan rasa itu indah hingga bersemu menyemai.
Sering senyumku merona malu karenamu.
Melawan gemuruh cinta yang tak dapat kucegah.” Bait pertama puisiku berhasil membuatmu terpaku memandangiku dan tak sedikitpun bagian wajahku yang luput dari pandanganmu.
“Tasbih cintamu hadir mengetuk pintu asaku.
Mencoba mengusik rasa yang asing dan berbeda.
Mengalun lembut penuh pesona keanggunan.
Membuai jiwaku terbang jauh berangan-angan.” Di akhir bait keduaku kau mulai menggenggam lembut tanganku. Dan masih memadangiku dengan lembut dan penuh kasih. Akupun hanya dapat tersenyum. Mencoba menahan diri agar tidak berdebar terlalu kencang.
“Bait-bait cinta muali tertulis sempurna.
Semenjak hembusan rindumu merasuki hatiku.
Hingga bait itu menjadi satu sajak indah.
Ceritakan tentang betapa hebatnya aku mencintaimu.” Kali ini kau mencium keningku dengan satu kecupan lembut. Dan aku menyukainya.
“Terbayang selalu kasidah-kasidah indah tentang cinta.
Yang kau siratkan di setiap hembusan tuturmu.
Sungguh selalu ingin kudengar.
Dirimu bertasbih tentang indahnya pesona cinta.”
Aku menghela nafas panjang setelah berhasil menyelesaikan empat bait puisiku.
“Tadi itu, judulnya apa?” kau tersenyum sembari memandangku lekat-lekat. Membuatku tak dapat menyembunyikan rona merah di pipiku karena malu.
“Puisi Senja. Kamu suka?”
Kau mengangguk lucu.
Saat itu, baru aku tersadar, bahwa cinta memang begitu indah dan menyenangkan jika denganmu. Tidak kalah indahnya dengan bunga-bunga yang baru saja mekar dari kuncupnya di padang taman. Dan akulah salah satu dari bunga itu yang sedang jatuh cinta pada seekor kumbang. Kumbang yang mampu menghisap madu-madu cinta dalam bunga hatiku.
Kaulah kumbangku.
Dan aku sangat mencintaimu. Kesangatan yang sungguh sederhana dengan segala luapan rasa yang ramai berkicauan dalam relung hatiku.
“Aku cinta kamu, Bunga.” Kau menyadarkanku dari lamunan sesaatku tentangmu. Dan lagi-lagi kau mengucapkan kata-kata yang sungguh tak dapat kupungkiri getaran hebat yang ditimbulkannya dalam dadaku. “Kemarin, untuk saat ini, besok, dan seterusnya.” Kau tersenyum manis, lalu mendaratkan sekecup lembut di keningku.
Ah. Terkadang aku risih sendiri dengan diriku yang terlalu mudah memerah padam karena malam.
“Aku cinta kamu, Kumbang.” Balasku.

Monday, March 22, 2010

CINTA TANPA AKHIR (trilogi of 'Billy'ku maling hatiku)

Gubrak!
“Aduuuh!”
Lho? Bukannya tadi aku lagi asyik nonton konsernya J-Rocks ya? Kenapa malah jatuh dari kasur begini? “Aaaah! Cuma mimpi!”
Aku mengguncang-guncangkan kepalaku yang masih setengah sadar. Baru setelah aku benar-benar sadar, aku terkejut melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 06.10.
“Oh my God!”
Aku mendengar pintu kamarku diketuk-ketuk. Kalau aku hitung, kayaknya sebanyak tujuh kali ketukan ya? Aduh nggak penting banget deh!
“Vera, mentang-mentang lagi libur jadi telat bangun?” seru mama dari luar kamarku dengan suaranya yang melengking keibuan. Dan kau tahu kan apa yang dimaksud mama tentang ‘libur’? tuh kan? Nggak penting lagi deh! Aku pasti bakalan telat ke sekolaaaaah!!!

Setelah rapi dengan seragamku, aku menyisir rambut pendek ‘ala dora’ku seadanya dan menaburi mukaku dengan bedak bayi favoritku tanpa sedikitpun melirik bagaimana keadaan mukaku di kaca. Buru-buru aku mengambil tas sekolah dan sepatuku lalu turun ke meja makan.
“Jam berapa nih, Ma?” tanya Robby, adikku dan aku tahu dia sebenarnya ingin menyindirku yang kesiangan. Huh, dasar adik yang nggak berbakti dan nggak berbakat! Uhh, apa hubungannya sih?
“Terserah lo deh! Gue lagi nggak mood tengkar sama lo!”
Setelah aku meneguk susuku sampai habis dan menyimpan dua helai roti selai kacang ke dalam kotak bekalku, aku langsung menyalami mama dan papa.
“Ma, Pa, aku berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumsalam.” Jawab mama dan papa bebarengan.
“Hati-hati ya.” Ujar mamaku yang paling dan super duper cantik itu. Hhmm, andaikan aku secantik itu. Nggak tahu deh aku ini mirip sama siapa? Kalau temen-temenku bilang sih aku nggak ada mirip-miripnya sama mereka berdua. Tapi DNA dan golongan darah membuktikan bahwa aku adalah anak kandung mereka. Pernah aku sampai dimarahin cuma gara-gara membahas aku ini anak kandung atau anak angkat?

Welcome to my High School! Aku segera dan segera buru-buru nyerobot gerbang sekolah yang sudah hampir ditutup sama Pak Satpam. Aku melirik jam yang ada di pos satpam dan memang jam masuk sudah lewat hampir lima menit.
“Halah! Telat mulu nih anak gedongan!” sindir Pak Satpam sambil menyisir kumis tebalnya yang ada di bawah hidung. Aduh, apa nggak geli ya punya kumis setebal itu?
Setibanya aku di kelas XI IA 2, guru terkiller nomor dua di sekolah ini sudah siap dengan spidolnya. Ya, kau belum tahu kan? Hukuman buat mereka yang telat adalah menjawab soal yang ada di papan. Dan kau tahu dia guru apa? Kimia!!!
“Permisi, Bu!”
“Cepat letakkan tas kamu dan kerjakan soal nomor dua!” seru Bu Mira dengan lantang dan membuat semua teman-temanku menunduk ketakutan. Aduh, nyantai aja kenapa sih? Dia kan juga manusia gitu!
“Jadi tadi ada yang telat juga dong, Bu?”
“Banyak nanya ya kamu tuh! Cepat letakkan tas kamu dan kerjakan soalnya!”
“Santai, Bu! Nanti keriputnya nambah lho!”
Aku segera meletakkan tasku dan maju ke depan ketika Bu Mira sibuk membenahi mukanya di depan kaca kecilnya. Uhh, kena aja tuh guru dikerjain? Dasar!
Nggak ada lima menit, soalku sudah selesai dan Bu Mira masih terus berkutat dengan kacanya. “Sudah Bu! Lanjutkan!” ujarku menirukan gaya motto seorang calon presiden.
Aku sempat mendengar Bu Mira berdeham. Huu, udah tua aja belagu!

“Telat mulu lo!” bentak Benny, teman sebangkuku dengan berbisik. Takut ketahuan Bu Mira ya?
Aku menjulurkan lidah ke arahnya dan bersedekap tenang memperhatikan Bu mira yang sibuk menggeal-geolkan pantatnya di depan papan tulis. Aku yakin semua cowok nggak konsen sama pelajaran tapi konsen sama pemandangan gratis di depannya.
Aku menyikut lengan Beni.
“Apa sih?” tanya Beni kesal.
“Ada tontonan gratis tuh di depan!”

Sepulang sekolah, aku nggak lupa mampir ke rumah sakit seperti sebulan sekali yang aku lakukan untuk mengecek keadaanku pasca operasi jantung. Hah??? Kau belum tahu? Aku dulu sebelum sesehat ini mengidap penyakit jantung yang aku nggak tahu apa namanya. Kalau kau tahu, kasih tahu aku ya!
“Udahlah kak. Turutin aja apa kata Dokter!”
Aku mendengar suara seorang cewek yang sedang membentak seseorang. Sabar dong buuuk! Nanti cepat tua lho.
Akhirnya aku berhenti melihat perdebatan di depanku karena aku sungkan mau lewat di depan mereka berdua.
“Percuma An! Nggak akan ada hasilnya! Itu kan cuma biar bisa menunda kematian kakak!”
Akhirnya dua orang kakak beradik itu berhenti berdebat melihat aku terpaku di depan mereka. Si adik yang dipanggil ‘An’ tadi masuk ke dalam ruangan. Ruangan apa ya?
“Sorry.” Kataku kepada cowok yang memakai kursi roda itu. Dilihat dari mukanya yang pucat dan badannya yang sama sekali nggak bergerak, sepertinya penyakitnya sangat parah.
Cowok itu hanya tersenyum. Adududuh, senyumnya itu lho! Hangaaat gitu! Kayak selimut.
Akhirnya aku berbalik dan memutuskan untuk melewati jalan yang lain. aku kan nggak mau jadi salting di depan cowok seganteng dan secool itu. “Besok mampir lagi ah!”

Sunday, March 21, 2010

AKHIR YANG ABADI (trilogy of ‘Billy’ku maling hatiku)

Baru pertama kalinya aku melihat kembang api tahun baru di rumah sakit. Rasanya berkesan, apalagi ada dia di dekat aku sekarang. Rasanya, kalau saja aku bisa menghentikan waktu, ingin sekali tubuhnya yang kuat itu aku peluk selama waktu berhenti; dan aku tahu itu sangat tidak mungkin.
Tidak bisa aku percaya, kedatangannya membuatku tidak bisa terus bertahan dengan prinsip konyol yang sudah semenjak ‘perceraian’ itu aku tanamkan di dalam diriku. Bertahan hidup tanpa orang lain. Dan sekarang aku sangat mmbutuhkannya.
“Kenapa lo murung gitu?” Tanyaku heran melihat Ocha menundukkan kepala di depanku.
Ia mendongak kaget. “Nggak pa-pa,” Ocha tersenyum sambil menggelengkan kepala. Lucu banget!
Aku meraih tangan Ocha yang memegangi roda kursiku. “Cha,”
“Hm?”
Aku menatapnya lekat. “Kapan ya gue bisa keluar dari sini?”
Ocha menatapku tajam dalam diam. Apa pertanyaanku terlalu sulit untuk dia jawab? atau ada yang dia sembunyikan dariku? Sudahlah. Aku tidak terlalu ingin tahu.
“Nggak akan lama lagi kok. Makanya lo cepet sehat!” jawab Ocha tersenyum. Tidak sebentar aku memperhatikan matanya. Ada bundaran hitam di sekitarnya dan matanya membesar. Kenapa sih? kali ini aku ingin tahu.
“sekarang lo istirahat aja ya! udah malem,” terlalu cepat dia mendahului pembicaraanku. Ya, aku batalkan saja niatku untuk menanyakan kondisinya selama aku koma.



Gila! mereka berdua ada di hadapan gue sekarang? sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi. Sudahlah. Mereka bersama pasti kebetulan saja karena ingin menjengukku, atau hanya ingin menunjukkan identitasnya sebagai ‘orang tua’.
“Gimana keadaan kamu Sayang?”
Aku memalingkan wajah ketika mamawanita jahat itumendekat dan hendak meraih keningku. Ruang rawatku terasa tegang sekali. Dan tentu saja menyesakkan.
“Bukan urusan kamu!”
Aku mengalihkan perhatian kepada papalaki-laki yang sedari tadi hanya diam memandangku. Aku tidak bisa menebak apa maksud ekspresinya dan bagaimana perasaannya sekarang ini. “Apa Papa ke sini mau nyuruh aku malak lagi? Cukup Pa! aku nggak mau lagi kerja kotor kayak gitu!”
Aku menutup mulutku, seperti ada yang tertahan di tenggorokanku; rasanya mengganjal sekali. Bahkan lebih buruk dibandingkan ketika aku sedang berusaha keras menelan daging ayam goreng.
“Uhuk..uhuk..”
Tanganku basah. Aku melihatnya dan ternyata ada banyak cairan merah di sana. Cairan kental yang membuat perutku mual dan kepalaku pusing karena baunya. Separah itukah penyakitku?
Mama menghampiriku lebih dekat. Dan aku membuang muka muak melihat wajahnya yang sok baik. “Kamu baik-baik aja kan Sayang? mulut kamu berdarah. Apa kamu udah minum obat?”
Aku menepis tangan mama yang hendak menyentuhku. “Bukan urusan kamu!”
Aku melirik mama, dan dia meneteskan air mata. Entahlah, kepalaku sudah cukup sakit untuk memikirkan itu tangisan sedih atau hanya karena dia ingin berpura-pura. Kenapa baru sekarang mama nangis? ke mana aja mama selama ini?
“Pagi semuanya!” sapa seseorang di ambang pintu. Dia datang di waktu yang tepat! senyumnya yang ceria membuat kepalaku lebih ringan.
Semua menoleh ke arah Ocha. Ternyata di belakangnya sudah berdiri Andin, adikku.
“Pagi kak!”
Aku tersenyum. Tapi bukan untuk kedua orang yang berada di hadapanku sekarang. Mana mungkin?
Dan akhirnya tanpa aku minta mereka berdua meninggalkan ruanganku. Aku perhatikan punggung mereka yang menjemukan itu. Ocha, segitu baiknyakah kamu sampai harus tersenyum kepada mereka ?
“Gimana keadaan lo?”

Saturday, March 20, 2010

NEGERI TUPAI BAWAH TANAH

Aku terus berlari meskipun harus tertatih-tatih karena aku sempat tersandung kerikil yang meskipun kecil tapi sudah benar-benar membuat jempol kakiku bengkak dan memar. Aku tak sedikitpun berani menoleh ke belakang untuk kali ini.
Namun akhirnya aku menoleh juga ke belakang dan tahu-tahu laki-laki yang sedari tadi mengejarku dengan golok besar di tangan kanannya sudah lima langkah lebih dekat. Aku mencoba menyembunyikan diri di dalam tong kosong yang aku temukan di gang sela-sela gedung dan sepertinya tong yang aku temukan adalah tong sampah.
“Ke mana sih tuh bocah? Bikin susah aja pengemis kecil satu itu!”
Aku mendengar ocehan geram majikanku itu dengan decakan yang lumayan mengerikan. Aku mencoba menutupi hidungku yang hampir bersin karena tak tahan dengan debu dan bau busuk di dalam tong sampah.
“Sial!” aku mendengar langkah kaki menjauh dengan tergesa-gesa. Aku mengintip untuk memastikan bahwa itu adalah langkah kaki majikanku. Dan benar saja, dia sudah kehilangan jejakku.
Aku keluar dari tong sampah itu lalu berjalan ke dalam gang dengan nafas yang masih sedikit memburu tak beraturan. Lalu di tengah-tengah perjalanan aku menemukan sebuah ruangan yang tak berpintu yang terlihat gelap meskipun hari masih sore.
Dengan ragu aku memasukinya dan serta-merta aku merasakan hawa yang pengap karena debu dan kardus-kardus yang berserakan di sana-sini. Sepertinya ini adalah gudang penyimpanan barang-barang bekas.
Aku sempat terlonjak kaget ketika seekor tikus berlari ke arah atap dengan santainya di depanku. Untung saja aku bukan salah satu orang yang alergi tikus atau semacamnya.
Karena kelelahan, aku menyingkirkan beberapa kardus dan bermaksud untuk membongkarnya untuk aku gunakan alas. Karena jujur saja, lantai ruangan ini sangat kotor sekali.
Belum sempat aku membongkar kardus lumayan besar yang aku temukan, perhatianku teralihkan pada satu balok kayu berengsel di bawah lantai. Engsel itu memang tak akan mencurigakan jika tak diperhatikan dengan teliti. Karena penasaran, aku pun membukanya dan ternyata di sana terdapat satu ruangan bawah tanah!

***

Thursday, December 31, 2009

cerpen : KARENA KAMU, AKU JADI BISA “makan” BROWNIES

Bronis. Apa sih asyiknya bronis ? aku heran sama kedua sahabatku yang begitu senangnya menjalin hubungan dengan cowok dibawah umurnya. Terkadang aku suka jengkel mendengar semua cerita-cerita mereka yang bisa dibilang kekanak-kanakan. Apa sih untungnya ? kayaknya mereka nggak masalah bilang cinta dan cinta. Sadar nggak sih kalau dia tuh lagi mempermainkan cinta ? aku membaringkan diriku malas di atas kasurku mencoba menghilangkan semua pikiranku.
Dan aku sangat amat membenci yang namanya kue ‘bronis’.
“Woy,” seseorang melambaikan tangannya di depan mukaku yang ternyata adalah Vita, teman sekamar kostku. Membuatku spontan membuyarkan semua lamunanku tentang bronis. “Ngelamun aja ?”
Aku tersenyum datar. “Kamu tuh sebenarnya nyaman nggak sih pacaran sama brondongan gitu ?” tanyaku kepada Vita yang sedang asyik bergelut dengan gulingnya di kasur.
“Dia tuh cenderung jujur dan apa adanya, Ra. Di samping itu dia mau mencoba untuk lebih dewasa dibandingkan aku yang lebih tua dari dia. Itu yang aku suka,”
Aku tercengang mendengar penjelasan Vita. “Emangnya mantan-mantan kamu nggak ada yang bisa dewasa ya ?”
“Mereka lebih suka mempertahankan diri mereka dari semua kesalahan yang mereka lakukan dengan alasan-alasan yang kayaknya udah mereka rencanakan sebelumnya,” Vita menerawang seperti kembali ke masa lalunya dengan mantan pacarnya yang selalu sad ending dengan masalah yang sama.
“Mau ?” tanya Vita menawarkan bronis di genggamannya.
“No way !”
Vita terkekeh dan menelan semua bronisnya yang membuat perutku mual. Yeak !

cerpen cinta : DIA BUKAN DIA

Tiupan angin dari jendela kamarku ini membuatku merindukan dunia yang terang. Dunia yang hanya akan gelap ketika aku tertidur. Tapi kegelapan itu sekarang begtiu nyata. Kegelapan yang terus membuat aku teringat pada satu kejadian memuakkan dua tahun yang lalu pada waktu aku masih duduk di kelas dua SMP. Sampai sekarang aku masih menyesali keadaanku yang kini membuatku tidak berdaya tanpa bantuan tongkatku. Ya, aku buta.
Tapi keadaan Ryo yang saat ini baik-baik saja membuatku sangat bersyukur sekali karena bukan dia yang tertabrak mobil besar pada waktu pulang sekolah itu dan bukan dia juga yang harus mengalami kegelapan yang sekarang aku rasakan. Sulit menghilangkan ingatanku tentang kejadian waktu itu.
Ryo adalah sahabatku yang sampai saat ini tidak akan aku lupa bagaimana wajahnya ketika tersenyum, sedih dan marah. Sahabatku yang tidak akan aku biarkan sesuatu apapun mencelakakan dia. Aku menyukainya, aku menyayanginya, dan sekarang aku masih ragu pada perasaanku yang semakin lama seperti semakin berubah. Apa mungkin ini perasaan cinta ?

cerpen : ‘Billy’ku maling hatiku

Buntu ! aku benar-benar nggak punya inspirasi untuk meneruskan cerpenku yang sudah tersusun satu paragraf di komputerku. Aku membanting keyboardku kesal sebelum akhirnya aku memastikan ia baik-baik saja. Good, itu memang pelampiasan yang salah kaprah.
Aku berjalan menuju dapur untuk membuat segelas kopi panas. Semoga saja bisa membuat kepenatanku sedikit menghilang. Aneh, nggak biasa-biasanya aku susah cari inspirasi. Kalau dipikir-pikir, kehidupanku yang sekarang memang belum penuh dengan sesuatu yang bisa jadi inspirasi yang menarik.
“Bikin apa Cha ?” tanya kakakku, Rio mengagetkanku.
“Buset dah ! hampir aja ini kopiku tumpah Mas,” jawabku sedikit membentak.
Mas Rio melihat jam yang terletak di dinding dapur. “malam-malam gini bikin kopi ? mau begadang ?”
Aku mengangguk. “Mau cari inspirasi,”
“Halah, gaya ! kayak kamu penulis penting aja ?” seru Mas Rio lalu mengacak-acak rambutku kasar.
“Eh, hati-hati Mas kalo ngomong ! suatu hari nanti adikmu yang cantik ini pasti bisa kayak Kahlil Gibran,” seruku yakin. Aku menyeruput kopiku dengan gaya percaya diri dan angkuh.
Mas Rio berbalik dan menunggingkan pantatnya ke arahku, memperlihatkan garis celana dalam di balik celana boxernya. “Maaaasa sih ?” serunya lalu lari menjauhiku; masih dengan pantatnya yang menungging.
“Awas lo ya !”
Hmmm, aku jadi dapat inspirasi dari pantatnya Mas Rio.